Arsip Milist ResonansiApril 30, 2006 6:34 am

Memang tidak gampang menjadi seorang guru, apalagi menjadi guru bagi
diri sendiri. Sampai saat ini, terutama di Indonesia, banyak orang
yang tidak menghargai pekerjaan seorang guru karena satu dan lain
hal, antara lain karena penghargaan finansial yang rendah. Sangat
disayangkan sekali karena sebenarnya pekerjaan seorang guru itu lebih
dari sekedar mulia.

Intinya, apa yang dikerjakan seorang guru sesungguhya adalah suatu
proses yang setiap orang pasti lakukan dan terapkan pula pada dirinya
sendiri. Proses yang baik akan menghasilkan output yang baik, proses
yang tidak baik akan menghasilkan output yang tidak baik pula.

Sebelum kita membahas apa yang dimaksud dengan “menjadi guru bagi
diri sendiri” dan “coach yourself,” mari kita telaah sebenarnya
profesi apa saja yang sebenarnya adalah metamorfosa dari profesi ini.
Mungkin Anda tidak menyadari bahwa Anda sendiri pun adalah
seorang “guru.” Bagaimana mungkin?

Seorang salesman pun sebenarnya adalah seorang guru, paling tidak
bagi customer dan diri sendiri serta fellow workers yang memerlukan
informasi produk darinya. Seorang eksekutif pun sebenarnya adalah
seorang guru. Dalam melakukan negosiasi dan presentasi, misalnya, ia
perlu dengan jelas, jujur dan gamblang menggambarkan keadaan yang
sebenarnya akan apa yang diajukan di muka umum.

Lantas, apa yang dimaksud dengan “coach yourself” dan “menjadi guru
bagi diri sendiri?” Pertama, seorang “coach” adalah seseorang yang
membantu memperjelas arah jalan dan bagaimana mencapai tujuan. Dengan
berbagai cara, strategi dan tip, seorang coach berusaha meningkatkan
awareness akan kesempatan-kesempatan yang ada untuk dicapai dalam
timeframe tertentu.

Lantas dengan menjadi coach bagi diri sendiri, ini adalah kesempatan
Anda untuk mencari jalan dengan meningkatkan awareness akan segala
kemungkinan, kesempatan dan strategi. Misalnya saja, seorang
mahasiswa yang baru lulus kuliah. Janganlah Anda “memakai kacamata
kuda” dengan tanpa kritisisme sama sekali. Seorang lulusan marketing,
misalnya, tidak perlu terpaku akan pekerjaan-pekerjaan marketing dan
sales saja, karena sebenarnya marketing adalah bidang yang luas.
Demikian luasnya sehingga sebenarnya anda sendiri pun adalah “barang
dagangan.”

Mengapa Anda tidak menciptakan suatu “image” alias “merek dagang”
mengenai diri Anda sendiri? Misalnya, si Susan adalah seorang fresh
graduate sarjana pemasaran dari suatu universitas swasta. Namun,
karena kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang ini, ia
hendak mencoba melakukan bisnis.

Bisnis apa? Pertama-tama, buatlah inventaris kelebihan diri sendiri
dan fokuskan hal ini supaya skills dan talenta di bidang ini
ditingkatkan semaksimal mungkin dengan berbagai cara. Lantas,
pengetahuan pemasarannya bisa digunakan untuk memperkenalkan produk
atau jasa yang sesuai dengan “image” alias “merek dagang” yang hendak
ditawarkan ke pasar.

Ingat untuk selalu tahu ke mana arah yang dituju.

Kedua “menjadi guru bagi diri sendiri.” Anda hendaknya mengenal
kekurangan diri sendiri dan memfokuskannya ke tujuan yang akan
dicapai. Bayangkan jika Anda adalah seorang guru, apa yang akan Anda
lakukan untuk membantu murid Anda (yang nota bene adalah diri Anda
sendiri) supaya tujuannya bisa dicapai dalam waktu yang telah
ditentukan?

Jelas, Anda perlu membuat lesson plan, sebagaimana seorang guru
mempersiapkan pelajaran-pelajaran bagi murid-muridnya. Lesson plan
itu sendiri terdiri dari obyektif yang diharapkan untuk dicapai
dalam “kelas” tersebut yang perlu diselesaikan dalam timeframe
tertentu. Selain itu, lesson plan juga terdiri dari beberapa poin
yang dikenal sebagai steps (langkah-langkah).

Contoh obyektif, misalnya, mencapai penghasilan 20 juta Rupiah dalam
satu bulan. Steps atau langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk
mencapai ini adalah dengan menjual produk dengan omzet satu juta
Rupiah per hari, yang berarti perlu menjual 100 ribu Rupiah per jam
(asumsi 10 jam kerja per hari). Bagaimana mencapai hasil ini? Anda
sendiri yang bisa menjawab, mungkin dengan berusaha meningkatkan daya
tarik produk dan jasa Anda, serta lain-lainnya.

Intinya, sebagai seorang coach dan guru bagi diri sendiri, Anda perlu
mengenal diri sendiri, segala kelebihan dan kekurangannya, lantas,
stick to the plan dengan menjalankan tahap demi tahap dalam hitungan
waktu yang bisa dikuantifikasikan. Run your life as a business.
Jalankan hidup Anda sebagai bisnis, Anda pasti berhasil.

Now, siapa bilang profesi seorang guru itu monoton dan tidak
menghasilkan? Anda sendiri pun adalah seorang guru bagi diri Anda
sendiri, jadi janganlah kita mengecilkan arti kata “seorang guru.”

Sumebr: Coach Yourself: Menjadi Guru Bagi Diri Sendiri oleh Jennie S.
Bev. Jennie S. Bev adalah edukator, penulis, konsultan dan penerbit
berbasis di San Francisco Bay Area. Ia telah menerbitkan lebih dari
40 buku dan 900 artikel di manca negara. Baca perjuangan hidup dan
prestasinya di JennieSBev.com.

Arsip Milist ResonansiApril 29, 2006 4:04 am

Televisi pertama kali masuk ke kampung kami kira-kira 25 tahun lalu.
Waktu itu saya masih di kelas lima SD. Pemiliknya adalah tetangga
dekat kami. Hampir semua orang di kampung itu memanggil pemilik
rumah itu ‘IBU.’ Televisi itu 14 inci, hitam-putih. Sebelum ia bisa
mengeluarkan gambar sebagaimana layaknya televisi, kerepotan demi
kerepotan terjadi di sekitar rumah. Misalnya, di depan rumah IBU
harus ditanamkan antena lebih kurang lima meter. Pohon cengkeh di
depan rumah kalah sama itu antena. Kerepotan lain adalah menyambung-
nyambungkan kabel. Melekatkannya di dinding rumah IBU yang besar
itu.

Itu adalah tontonan yang menarik bagi anak-anak seusia saya. Kami
mengerumuni para pekerja yang mengerjakannya. Melihat-lihat penuh
rasa ingin tahu. Saya, didalam hati bahkan punya target sendiri:
saya harus jadi saksi sejarah pertama melihat siaran televisi di
kampung kami.

Ketika televisi itu kemudian menyala, hati saya bertempik sorak.
Kawan-kawan dan saya segera menerobos masuk ke rumah IBU, dengan
sedikit malu-malu, untuk menontonnya. Seingat saya, acara sore itu
adalah paduan suara anak2 asuhan Pranajaya, dengan lagu: “Siapa yang
paling manis, pasti mama tersayang….”.

Lima menit setelah menyaksikannya, saya bergegas ke rumah. Memanggil
adik perempuan saya (sekarang sudah almarhum) yang sedang memasak.
Saya bilang, kamu harus lihat itu televisi. Bagus. Dan adik saya
ikut berlari. Dan adik saya ikut menikmati keceriaan itu. Malamnya
sebagai imbalan, kami kena marah ibu-bapak. Soalnya, adik saya
meninggalkan tungku terlalu lama yang menyebabkan kami harus memakan
nasi gosong berkerak malam itu…..

Sejak hari itu kami punya acara rutin setiap sore. Jam 5-6 sore,
setelah pulang dari ladang dan mandi di sungai, rombongan saya dan
kawan-kawan sudah akan berdiri di depan pintu rumah IBU. Mengetok
pintu pelan-pelan dan setelah dibukakan, kami duduk bersila di
tikar. Menonton televisi. Bila sudah jam 7 atau jam 8, tidak ada
ampun, IBU akan berdiri. Mematikan televisi dan menyuruh kami
pulang. “Pulang, kalian harus belajar,” begitu selalu pesan IBU. Dan
samasekali tak ada yang berani membantah.

Mungkin bagi yang tidak tahu riwayatnya, agak aneh kedengarannya,
jika di Sarimatondang yang kebanyakan orang berbahasa daerah Batak,
ibu itu mendapat julukan IBU, bukan Inang (dalam bahasa Batak Ibu
=Inang). Tetapi tidak perlu heran. Julukan IBU itu melekat kepadanya
karena beliau adalah guru pertama di kampung kami. Sebagian besar
orang-orang tua di kampung kami masih mencicipi didikannya. Dan
sebagaimana kita pernah dengar cerita orang tua dahulu, guru zaman
dulu adalah guru 24 jam. Di rumah dan di sekolah ia tetap
menunjukkan teladannya sebagai guru. Makanya panggilan IBU kepada
sang IBU itu melekat terus, sampai kepada kami, anak-anak, yang
sepantasnya memanggilnya nenek.

IBU adalah sosok yang terkenal dan berwibawa di kampung kami. Tidak
terlalu banyak bicara, tidak suka ngerumpi tetapi ia dikagumi
sekaligus ditakuti. Sebenarnya ia sudah lama pensiun dan putra-
putrinya sudah jadi ‘orang’ semua. Tetapi kegiatan rutinnya tak
berbeda jauh dengan orang-orang kebanyakan di kampung kami. Pagi-
pagi sekali dia sudah bangun. Pergi ke kebun belakang rumahnya,
menyiangi pohon cengkeh, menebang tanaman liar yang sering tumbuh
tanpa permisi. Kalau hari Jumat, pagi-pagi sekali dia sudah menarik
kereta dorong berisi beras, yang jadi dagangannya di pasar.

Tidak sekali-dua kali anak-anak muda di kampung kami kena damprat
olehnya. Itu biasanya terjadi jika sedang musim ujian sekolah,
ketika kampung kami mendadak sepi. Anak-anak sekolah mendekam di
rumah, belajar (entah dengan serius atau tidak). Pada saat-saat
semacam itu ada kalanya ada satu dua orang yang membandel, bermain-
main gitar di pinggir jalan atau di depan warung sambil mencoba-coba
menjadi The Mercys gadungan atau Panbers amatiran. Nah, orang-orang
ini bersiap-siaplah kena damprat sang IBU. IBU akan marah besar
karena melihat anak-anak itu tidak belajar. Ia juga lebih marah
karena dengan bernyanyi-nyanyi begitu, orang yang belajar akan
terganggu.

Kampung kami itu dikelilingi oleh enam Sekolah Dasar dan satu SMP
Negeri. Banyak ibu guru yang tinggal di kampung kami, tetapi
anehnya, hingga ketika IBU berpulang, belum ada satu pun Ibu Guru
yang menggantikan posisi sang IBU untuk dipanggil IBU. Barangkali
masih akan lama kami menemukan ibu yang sekaliber IBU.

IBU itu memang sudah menjadi ikon tentang bagaimana seharusnya
seorang Ibu Guru. Dan yang membanggakan kami, ia bukan hanya Ibu
Guru bagi orang lain, tetapi juga bagi dirinya sendiri dan anak-
anaknya. Ia buktikan ajarannya di tengah keluarganya.

Tak mengherankan bila ketika jenazahnya disemayamkan di Rumah Duka,
ratusan bahkan ribuan karangan bunga dukacita berbaris sepanjang
jalan. Bukan hanya dari bekas murid-muridnya, tetapi terutama dari
orang-orang yang mengucapkan ikut berdukacita kepada putra-putrinya.
Putranya yang tertua adalah Prof. Dr. Bungaran Saragih, menteri
pertanian pada Kabinet Gus Dur dan Megawati.

Tiap kali saya ingat IBU, saya selalu bersyukur bahwa ia adalah
salah seorang dari banyak IBU di Indonesia. Bangga saya jadi orang
Indonesia.

Sumber: Seorang ‘IBU’ yang tak Pernah Pensiun oleh Eben Ezer
Siadari. Eben Ezer Siadari adalah wartawan, pemimpin redaksi majalah
WartaBisnis dan BisnisKita, tinggal di Jakarta.

Arsip Milist ResonansiApril 28, 2006 9:50 am

Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apapun yang
kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita.
Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan
mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita
melakukan energi negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat
balasan berupa keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan
sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada 2003.

Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah
sakit di Jakarta. Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi
penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat
tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang
ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah
layar monitor.

Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya.
Dokter berkata, “Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu”.
Sayapun menjawab “Mengapa dokter meminta izin saya?Bukankan setiap
pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta
izin saya” Dokter itu menjawab “Karena obat yang ini mahal Pak
Jamil.” “Memang harganya berapa dok?” Tanya saya. Dokter itu dengan
mantap menjawab “Dua belas juta rupiah sekali suntik.” “Haahh 12 juta
rupiah dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok? Dokter itu
menjawab, “Sehari tiga kali suntik pak Jamil”.

Setelah menarik napas panjang saya berkata, “Berarti satu hari tiga
puluh enam juta, dok?” Saat itu butiran air bening mengalir di pipi.
Dengan suara bergetar saya berkata, “Dokter tolong usahakan sekali
lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang
Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan.” “Pak Jamil
kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta bantuan
berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa kami
deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena
istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu
kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya,
pak.” jawab dokter.

Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat
ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, “Ya Allah Ya
Tuhanku… aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-
Mu, akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti
akan Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang
pernah aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku… gerangan
keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan
sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga
dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau
Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher
nyamuk. Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah
kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah
menyembuhkan istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di
jagat raya ini.”

Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan
kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam
keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya
sekolah yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri
mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75
saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.

Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata
berkata, “Pokoknya yang ngambil uangku kualat… yang ngambil uangku
kualat…” Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh
ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku
bahwa sayalah yang mengambil uang itu.

Usai berdoa saya merenung, “Jangan-jangan inilah hukum alam dan
ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya
akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah
penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan
mengambil uang yang ia miliki itu.” Setelah menarik nafas panjang
saya tekan nomor telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani
tiga buah hati saya. Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di
rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya “Bu, apakah ibu ingat
ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh lima rupiah
beberapa puluh tahun yang lalu?”

“Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil,
duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-
teganya ada yang ngambil,” jawab ibu saya dari balik telepon.
Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata
mengalir di pipi.

Sambil terbata saya berkata, “Ibu, maafkan saya… yang ngambil uang
itu saya, bu… saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf… saat
nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama
ibu.” Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik
telepon saya dengar ibu saya berkata: “Ya Tuhan pernyataanku aku
cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata
yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin
dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh.” Setelah memastikan bahwa
ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan
memohon doa darinya.

Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan
sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata “Selamat
pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu
telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan
operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu.” Bulu kuduk saya
merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya
berkata. “Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan
dokter.”

Saya meninggalkan ruangan dokter itu…. dengan berbisik pada diri
sendiri “Ibu, I miss you so much.”

Sumber: “Ibu, I Miss You So Much” oleh Jamil Azzaini, Senior Trainer
dan penulis buku Best Seller ‘KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial
Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup’.

-->