Televisi pertama kali masuk ke kampung kami kira-kira 25 tahun lalu.
Waktu itu saya masih di kelas lima SD. Pemiliknya adalah tetangga
dekat kami. Hampir semua orang di kampung itu memanggil pemilik
rumah itu ‘IBU.’ Televisi itu 14 inci, hitam-putih. Sebelum ia bisa
mengeluarkan gambar sebagaimana layaknya televisi, kerepotan demi
kerepotan terjadi di sekitar rumah. Misalnya, di depan rumah IBU
harus ditanamkan antena lebih kurang lima meter. Pohon cengkeh di
depan rumah kalah sama itu antena. Kerepotan lain adalah menyambung-
nyambungkan kabel. Melekatkannya di dinding rumah IBU yang besar
itu.

Itu adalah tontonan yang menarik bagi anak-anak seusia saya. Kami
mengerumuni para pekerja yang mengerjakannya. Melihat-lihat penuh
rasa ingin tahu. Saya, didalam hati bahkan punya target sendiri:
saya harus jadi saksi sejarah pertama melihat siaran televisi di
kampung kami.

Ketika televisi itu kemudian menyala, hati saya bertempik sorak.
Kawan-kawan dan saya segera menerobos masuk ke rumah IBU, dengan
sedikit malu-malu, untuk menontonnya. Seingat saya, acara sore itu
adalah paduan suara anak2 asuhan Pranajaya, dengan lagu: “Siapa yang
paling manis, pasti mama tersayang….”.

Lima menit setelah menyaksikannya, saya bergegas ke rumah. Memanggil
adik perempuan saya (sekarang sudah almarhum) yang sedang memasak.
Saya bilang, kamu harus lihat itu televisi. Bagus. Dan adik saya
ikut berlari. Dan adik saya ikut menikmati keceriaan itu. Malamnya
sebagai imbalan, kami kena marah ibu-bapak. Soalnya, adik saya
meninggalkan tungku terlalu lama yang menyebabkan kami harus memakan
nasi gosong berkerak malam itu…..

Sejak hari itu kami punya acara rutin setiap sore. Jam 5-6 sore,
setelah pulang dari ladang dan mandi di sungai, rombongan saya dan
kawan-kawan sudah akan berdiri di depan pintu rumah IBU. Mengetok
pintu pelan-pelan dan setelah dibukakan, kami duduk bersila di
tikar. Menonton televisi. Bila sudah jam 7 atau jam 8, tidak ada
ampun, IBU akan berdiri. Mematikan televisi dan menyuruh kami
pulang. “Pulang, kalian harus belajar,” begitu selalu pesan IBU. Dan
samasekali tak ada yang berani membantah.

Mungkin bagi yang tidak tahu riwayatnya, agak aneh kedengarannya,
jika di Sarimatondang yang kebanyakan orang berbahasa daerah Batak,
ibu itu mendapat julukan IBU, bukan Inang (dalam bahasa Batak Ibu
=Inang). Tetapi tidak perlu heran. Julukan IBU itu melekat kepadanya
karena beliau adalah guru pertama di kampung kami. Sebagian besar
orang-orang tua di kampung kami masih mencicipi didikannya. Dan
sebagaimana kita pernah dengar cerita orang tua dahulu, guru zaman
dulu adalah guru 24 jam. Di rumah dan di sekolah ia tetap
menunjukkan teladannya sebagai guru. Makanya panggilan IBU kepada
sang IBU itu melekat terus, sampai kepada kami, anak-anak, yang
sepantasnya memanggilnya nenek.

IBU adalah sosok yang terkenal dan berwibawa di kampung kami. Tidak
terlalu banyak bicara, tidak suka ngerumpi tetapi ia dikagumi
sekaligus ditakuti. Sebenarnya ia sudah lama pensiun dan putra-
putrinya sudah jadi ‘orang’ semua. Tetapi kegiatan rutinnya tak
berbeda jauh dengan orang-orang kebanyakan di kampung kami. Pagi-
pagi sekali dia sudah bangun. Pergi ke kebun belakang rumahnya,
menyiangi pohon cengkeh, menebang tanaman liar yang sering tumbuh
tanpa permisi. Kalau hari Jumat, pagi-pagi sekali dia sudah menarik
kereta dorong berisi beras, yang jadi dagangannya di pasar.

Tidak sekali-dua kali anak-anak muda di kampung kami kena damprat
olehnya. Itu biasanya terjadi jika sedang musim ujian sekolah,
ketika kampung kami mendadak sepi. Anak-anak sekolah mendekam di
rumah, belajar (entah dengan serius atau tidak). Pada saat-saat
semacam itu ada kalanya ada satu dua orang yang membandel, bermain-
main gitar di pinggir jalan atau di depan warung sambil mencoba-coba
menjadi The Mercys gadungan atau Panbers amatiran. Nah, orang-orang
ini bersiap-siaplah kena damprat sang IBU. IBU akan marah besar
karena melihat anak-anak itu tidak belajar. Ia juga lebih marah
karena dengan bernyanyi-nyanyi begitu, orang yang belajar akan
terganggu.

Kampung kami itu dikelilingi oleh enam Sekolah Dasar dan satu SMP
Negeri. Banyak ibu guru yang tinggal di kampung kami, tetapi
anehnya, hingga ketika IBU berpulang, belum ada satu pun Ibu Guru
yang menggantikan posisi sang IBU untuk dipanggil IBU. Barangkali
masih akan lama kami menemukan ibu yang sekaliber IBU.

IBU itu memang sudah menjadi ikon tentang bagaimana seharusnya
seorang Ibu Guru. Dan yang membanggakan kami, ia bukan hanya Ibu
Guru bagi orang lain, tetapi juga bagi dirinya sendiri dan anak-
anaknya. Ia buktikan ajarannya di tengah keluarganya.

Tak mengherankan bila ketika jenazahnya disemayamkan di Rumah Duka,
ratusan bahkan ribuan karangan bunga dukacita berbaris sepanjang
jalan. Bukan hanya dari bekas murid-muridnya, tetapi terutama dari
orang-orang yang mengucapkan ikut berdukacita kepada putra-putrinya.
Putranya yang tertua adalah Prof. Dr. Bungaran Saragih, menteri
pertanian pada Kabinet Gus Dur dan Megawati.

Tiap kali saya ingat IBU, saya selalu bersyukur bahwa ia adalah
salah seorang dari banyak IBU di Indonesia. Bangga saya jadi orang
Indonesia.

Sumber: Seorang ‘IBU’ yang tak Pernah Pensiun oleh Eben Ezer
Siadari. Eben Ezer Siadari adalah wartawan, pemimpin redaksi majalah
WartaBisnis dan BisnisKita, tinggal di Jakarta.