Coach Yourself: Menjadi Guru Bagi Diri Sendiri
Memang tidak gampang menjadi seorang guru, apalagi menjadi guru bagi
diri sendiri. Sampai saat ini, terutama di Indonesia, banyak orang
yang tidak menghargai pekerjaan seorang guru karena satu dan lain
hal, antara lain karena penghargaan finansial yang rendah. Sangat
disayangkan sekali karena sebenarnya pekerjaan seorang guru itu lebih
dari sekedar mulia.
Intinya, apa yang dikerjakan seorang guru sesungguhya adalah suatu
proses yang setiap orang pasti lakukan dan terapkan pula pada dirinya
sendiri. Proses yang baik akan menghasilkan output yang baik, proses
yang tidak baik akan menghasilkan output yang tidak baik pula.
Sebelum kita membahas apa yang dimaksud dengan “menjadi guru bagi
diri sendiri” dan “coach yourself,” mari kita telaah sebenarnya
profesi apa saja yang sebenarnya adalah metamorfosa dari profesi ini.
Mungkin Anda tidak menyadari bahwa Anda sendiri pun adalah
seorang “guru.” Bagaimana mungkin?
Seorang salesman pun sebenarnya adalah seorang guru, paling tidak
bagi customer dan diri sendiri serta fellow workers yang memerlukan
informasi produk darinya. Seorang eksekutif pun sebenarnya adalah
seorang guru. Dalam melakukan negosiasi dan presentasi, misalnya, ia
perlu dengan jelas, jujur dan gamblang menggambarkan keadaan yang
sebenarnya akan apa yang diajukan di muka umum.
Lantas, apa yang dimaksud dengan “coach yourself” dan “menjadi guru
bagi diri sendiri?” Pertama, seorang “coach” adalah seseorang yang
membantu memperjelas arah jalan dan bagaimana mencapai tujuan. Dengan
berbagai cara, strategi dan tip, seorang coach berusaha meningkatkan
awareness akan kesempatan-kesempatan yang ada untuk dicapai dalam
timeframe tertentu.
Lantas dengan menjadi coach bagi diri sendiri, ini adalah kesempatan
Anda untuk mencari jalan dengan meningkatkan awareness akan segala
kemungkinan, kesempatan dan strategi. Misalnya saja, seorang
mahasiswa yang baru lulus kuliah. Janganlah Anda “memakai kacamata
kuda” dengan tanpa kritisisme sama sekali. Seorang lulusan marketing,
misalnya, tidak perlu terpaku akan pekerjaan-pekerjaan marketing dan
sales saja, karena sebenarnya marketing adalah bidang yang luas.
Demikian luasnya sehingga sebenarnya anda sendiri pun adalah “barang
dagangan.”
Mengapa Anda tidak menciptakan suatu “image” alias “merek dagang”
mengenai diri Anda sendiri? Misalnya, si Susan adalah seorang fresh
graduate sarjana pemasaran dari suatu universitas swasta. Namun,
karena kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang ini, ia
hendak mencoba melakukan bisnis.
Bisnis apa? Pertama-tama, buatlah inventaris kelebihan diri sendiri
dan fokuskan hal ini supaya skills dan talenta di bidang ini
ditingkatkan semaksimal mungkin dengan berbagai cara. Lantas,
pengetahuan pemasarannya bisa digunakan untuk memperkenalkan produk
atau jasa yang sesuai dengan “image” alias “merek dagang” yang hendak
ditawarkan ke pasar.
Ingat untuk selalu tahu ke mana arah yang dituju.
Kedua “menjadi guru bagi diri sendiri.” Anda hendaknya mengenal
kekurangan diri sendiri dan memfokuskannya ke tujuan yang akan
dicapai. Bayangkan jika Anda adalah seorang guru, apa yang akan Anda
lakukan untuk membantu murid Anda (yang nota bene adalah diri Anda
sendiri) supaya tujuannya bisa dicapai dalam waktu yang telah
ditentukan?
Jelas, Anda perlu membuat lesson plan, sebagaimana seorang guru
mempersiapkan pelajaran-pelajaran bagi murid-muridnya. Lesson plan
itu sendiri terdiri dari obyektif yang diharapkan untuk dicapai
dalam “kelas” tersebut yang perlu diselesaikan dalam timeframe
tertentu. Selain itu, lesson plan juga terdiri dari beberapa poin
yang dikenal sebagai steps (langkah-langkah).
Contoh obyektif, misalnya, mencapai penghasilan 20 juta Rupiah dalam
satu bulan. Steps atau langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk
mencapai ini adalah dengan menjual produk dengan omzet satu juta
Rupiah per hari, yang berarti perlu menjual 100 ribu Rupiah per jam
(asumsi 10 jam kerja per hari). Bagaimana mencapai hasil ini? Anda
sendiri yang bisa menjawab, mungkin dengan berusaha meningkatkan daya
tarik produk dan jasa Anda, serta lain-lainnya.
Intinya, sebagai seorang coach dan guru bagi diri sendiri, Anda perlu
mengenal diri sendiri, segala kelebihan dan kekurangannya, lantas,
stick to the plan dengan menjalankan tahap demi tahap dalam hitungan
waktu yang bisa dikuantifikasikan. Run your life as a business.
Jalankan hidup Anda sebagai bisnis, Anda pasti berhasil.
Now, siapa bilang profesi seorang guru itu monoton dan tidak
menghasilkan? Anda sendiri pun adalah seorang guru bagi diri Anda
sendiri, jadi janganlah kita mengecilkan arti kata “seorang guru.”
Sumebr: Coach Yourself: Menjadi Guru Bagi Diri Sendiri oleh Jennie S.
Bev. Jennie S. Bev adalah edukator, penulis, konsultan dan penerbit
berbasis di San Francisco Bay Area. Ia telah menerbitkan lebih dari
40 buku dan 900 artikel di manca negara. Baca perjuangan hidup dan
prestasinya di JennieSBev.com.

