Meri senang. Atasannya yang baru kali ini sangat baik. Betul-betul
baik. Dulu ketika Meri mulai bekerja di perusahaan itu, semua serba
kaku. Absensi diperiksa tiap hari. Terlambat sedikit dipotong uang
makan. Bahkan, kalau dihitung-hitung, bila sampai terlambat satu
setengah jam lebih, maka uang makan akan habis dipotong. Memang sih,
tidak ada yang terlambat sampai selama itu. Tapi tetap saja bikin
hati deg-degan.
Tapi, sejak atasan yang baru ini masuk. Segala sesuatunya berubah.
Meri adalah sekretaris langsung atasan ini. Atasannya yang baru ini
sangat rajin. Tiap pagi selalu merupakan orang pertama yang sampai
di kantor sesudah office boy.
Orangnya juga sangat baik. Tidak pernah marah-marah. Selalu bicara
dengan sabar. Mula-mula semua orang berusaha masuk lebih pagi.
Minggu pertama, tak seorang pun terlambat.
Tapi mulai minggu kedua, salah satu karyawan terlambat. Dia
terlambat dua puluh menit. Semua orang tegang. Wah bagaimana nanti.
Ternyata bos hanya bertanya mengapa terlambat. Ketika dijawab karena
macet, beliau hanya berkata agar lain kali berangkat lebih pagi.
Sudah. Begitu saja. Tidak ada marah-marah. Tidak ada potongan uang
makan. Wah, enak juga ya. Pelan-pelan keesokan harinya beberapa
orang juga terlambat. Eh, bos juga hanya memandang mereka dan
bertanya mengapa terlambat. Setelah dijawab, beliau menganjurkan
agar jangan terlambat lagi. Wah tidak marah juga.
Meri mulai lebih santai dalam bekerja. Demikian juga karyawan
lainnya. Meri yang dulu selalu buru-buru berangkat dari rumah, kini
santai. Sekali dua kali dia terlambat, bos hanya menegur. Setelah
itu, lebih aneh lagi. Pada keterlambatan keempat dan seterusnya, bos
tidak lagi menegurnya. Bos akan bersikap seakan-akan tidak terjadi
apa-apa. Langsung membicarakan pekerjaan. Tidak pernah lagi
menanyakan mengapa terlambat.
Suatu kali, di kantor kedatangan seorang tamu. Ternyata tamu
tersebut adalah karyawan di kantor tempat atasannya dulu bekerja. Di
sana dia tidak betah lagi dan ingin ikut pindah ke kantor Meri. Dia
cerita bahwa di sana, bosnya yang sekarang sangat galak. Karena itu
dia ingin pindah kemari.
Meri menyampaikan masalah ini ke atasannya. Atasannya memang
mengenali mantan karyawannya itu. Beliaupun menemui orang itu dan
berbincang-bincang sebentar. Setelah itu tamu tersebut pamit. Meri
pun kemudian masuk ke ruang bosnya karena dipanggil. Meri pikir,
pasti orang itu diterima, karena di sini memang sedang mencari
tambahan karyawan.
Ditolak
Tapi, jawaban atasannya membuatnya terheran-heran. Tidak, kata
atasannya. Orang itu tidak diterima. Meri memberanikan diri bertanya
ke atasannya. Mengapa orang itu tidak diterima bekerja?
Jawaban atasannya cukup panjang. "Karena dulu, di kantor yang lama,
dia selalu terlambat masuk kantor. Sudah saya peringatkan beberapa
kali tapi tetap saja terlambat. Berarti dia tidak menghargai saya,
dia tidak menganggap perkataan saya sebagai sesuatu yang penting.
Saya sudah bosan dan tidak mau lagi menegurnya. Akhirnya saya
biarkan saja supaya dia sadar sendiri. Eh, bukannya sadar. Malah
makin lama semakin gila keterlambatannya. Ya sudah. Saya menilai
orang seperti itu tidak bisa bekerja sama dengan saya. Masa sekarang
saya harus menerima dia bekerja di sini?"
Meri hanya bengong mendengar penjelasan atasannya. Beliau bicara
tanpa kesan marah. Hanya kesan sedih, agak menyayangkan mengapa
orang itu tidak berubah. Celaka! pikir Meri. Dia sendiri juga
sekarang sering terlambat. Hatinya jadi merasa kurang enak. Rasanya
jadi sungkan sendiri. Malu juga sih.
Dia merasa disindir, meskipun dia tahu atasannya tidak bermaksud
begitu. Meri hanya bisa berjanji pada dirinya sendiri untuk merubah
sikapnya. Dia tidak mau terlambat lagi. Dia tidak ingin mengecewakan
atasannya yang sudah demikian baik.
Mulai keesokan harinya, Meri langsung datang lebih pagi. Atasannya
tidak berkomentar apa-apa. Beliau memang pendiam. Tapi Meri berniat
masuk pagi bukan karena ingin mencari pujian. Tapi karena dia ingin
membalas kebaikan atasannya yang sudah bersikap baik.
Rekan-rekan kerja lainnya mulai bertanya-tanya kenapa Meri sekarang
rajin. Meri segera menceritakan kisah tamu yang pernah melamar, tapi
ditolak karena dulu sering terlambat. Keesokan harinya beberapa
karyawan datang lebih pagi. Demikian juga lusanya dan seterusnya.
Jumlah karyawan yang datang terlambat semakin berkurang. Ada juga
yang santai-santai saja dan tetap terlambat. Tapi kini yang menegur
bukan lagi atasannya, tapi karyawan lainnya, office boy, Meri, teman-
temannya sendiri. Lama kelamaan dia malu juga sih.
Perubahan tidak selalu harus dengan cara kekerasan. Do not wait for
someone to tell you! You can change by yourself if you want to!
Sumber: Keterlambatan oleh Lisa Nuryanti, Director Expands
Consulting & Training Specialist

