Arsip Milist ResonansiMay 16, 2006 2:19 pm

Meri senang. Atasannya yang baru kali ini sangat baik. Betul-betul
baik. Dulu ketika Meri mulai bekerja di perusahaan itu, semua serba
kaku. Absensi diperiksa tiap hari. Terlambat sedikit dipotong uang
makan. Bahkan, kalau dihitung-hitung, bila sampai terlambat satu
setengah jam lebih, maka uang makan akan habis dipotong. Memang sih,
tidak ada yang terlambat sampai selama itu. Tapi tetap saja bikin
hati deg-degan.
Tapi, sejak atasan yang baru ini masuk. Segala sesuatunya berubah.
Meri adalah sekretaris langsung atasan ini. Atasannya yang baru ini
sangat rajin. Tiap pagi selalu merupakan orang pertama yang sampai
di kantor sesudah office boy.

Orangnya juga sangat baik. Tidak pernah marah-marah. Selalu bicara
dengan sabar. Mula-mula semua orang berusaha masuk lebih pagi.
Minggu pertama, tak seorang pun terlambat.

Tapi mulai minggu kedua, salah satu karyawan terlambat. Dia
terlambat dua puluh menit. Semua orang tegang. Wah bagaimana nanti.

Ternyata bos hanya bertanya mengapa terlambat. Ketika dijawab karena
macet, beliau hanya berkata agar lain kali berangkat lebih pagi.
Sudah. Begitu saja. Tidak ada marah-marah. Tidak ada potongan uang
makan. Wah, enak juga ya. Pelan-pelan keesokan harinya beberapa
orang juga terlambat. Eh, bos juga hanya memandang mereka dan
bertanya mengapa terlambat. Setelah dijawab, beliau menganjurkan
agar jangan terlambat lagi. Wah tidak marah juga.

Meri mulai lebih santai dalam bekerja. Demikian juga karyawan
lainnya. Meri yang dulu selalu buru-buru berangkat dari rumah, kini
santai. Sekali dua kali dia terlambat, bos hanya menegur. Setelah
itu, lebih aneh lagi. Pada keterlambatan keempat dan seterusnya, bos
tidak lagi menegurnya. Bos akan bersikap seakan-akan tidak terjadi
apa-apa. Langsung membicarakan pekerjaan. Tidak pernah lagi
menanyakan mengapa terlambat.

Suatu kali, di kantor kedatangan seorang tamu. Ternyata tamu
tersebut adalah karyawan di kantor tempat atasannya dulu bekerja. Di
sana dia tidak betah lagi dan ingin ikut pindah ke kantor Meri. Dia
cerita bahwa di sana, bosnya yang sekarang sangat galak. Karena itu
dia ingin pindah kemari.

Meri menyampaikan masalah ini ke atasannya. Atasannya memang
mengenali mantan karyawannya itu. Beliaupun menemui orang itu dan
berbincang-bincang sebentar. Setelah itu tamu tersebut pamit. Meri
pun kemudian masuk ke ruang bosnya karena dipanggil. Meri pikir,
pasti orang itu diterima, karena di sini memang sedang mencari
tambahan karyawan.

Ditolak

Tapi, jawaban atasannya membuatnya terheran-heran. Tidak, kata
atasannya. Orang itu tidak diterima. Meri memberanikan diri bertanya
ke atasannya. Mengapa orang itu tidak diterima bekerja?

Jawaban atasannya cukup panjang. "Karena dulu, di kantor yang lama,
dia selalu terlambat masuk kantor. Sudah saya peringatkan beberapa
kali tapi tetap saja terlambat. Berarti dia tidak menghargai saya,
dia tidak menganggap perkataan saya sebagai sesuatu yang penting.
Saya sudah bosan dan tidak mau lagi menegurnya. Akhirnya saya
biarkan saja supaya dia sadar sendiri. Eh, bukannya sadar. Malah
makin lama semakin gila keterlambatannya. Ya sudah. Saya menilai
orang seperti itu tidak bisa bekerja sama dengan saya. Masa sekarang
saya harus menerima dia bekerja di sini?"

Meri hanya bengong mendengar penjelasan atasannya. Beliau bicara
tanpa kesan marah. Hanya kesan sedih, agak menyayangkan mengapa
orang itu tidak berubah. Celaka! pikir Meri. Dia sendiri juga
sekarang sering terlambat. Hatinya jadi merasa kurang enak. Rasanya
jadi sungkan sendiri. Malu juga sih.

Dia merasa disindir, meskipun dia tahu atasannya tidak bermaksud
begitu. Meri hanya bisa berjanji pada dirinya sendiri untuk merubah
sikapnya. Dia tidak mau terlambat lagi. Dia tidak ingin mengecewakan
atasannya yang sudah demikian baik.

Mulai keesokan harinya, Meri langsung datang lebih pagi. Atasannya
tidak berkomentar apa-apa. Beliau memang pendiam. Tapi Meri berniat
masuk pagi bukan karena ingin mencari pujian. Tapi karena dia ingin
membalas kebaikan atasannya yang sudah bersikap baik.

Rekan-rekan kerja lainnya mulai bertanya-tanya kenapa Meri sekarang
rajin. Meri segera menceritakan kisah tamu yang pernah melamar, tapi
ditolak karena dulu sering terlambat. Keesokan harinya beberapa
karyawan datang lebih pagi. Demikian juga lusanya dan seterusnya.

Jumlah karyawan yang datang terlambat semakin berkurang. Ada juga
yang santai-santai saja dan tetap terlambat. Tapi kini yang menegur
bukan lagi atasannya, tapi karyawan lainnya, office boy, Meri, teman-
temannya sendiri. Lama kelamaan dia malu juga sih.

Perubahan tidak selalu harus dengan cara kekerasan. Do not wait for
someone to tell you! You can change by yourself if you want to!

Sumber: Keterlambatan oleh Lisa Nuryanti, Director Expands
Consulting & Training Specialist

Arsip Milist ResonansiMay 2, 2006 2:23 pm

Dunia objektif muncul dari pikiran itu sendiri
-Buddha

Ide menulis artikel ini muncul saat saya berbincang dengan rekan
saya, Ariesandi Setyono, saat mengevaluasi mekanisme pikiran. Kami
mengevaluasi pengalaman hidup kami berdasarkan berbagai buku positif
yang telah kami baca. Diskusi berjalan seru, sangat inspiring dan
mind challenging.

Jujur saya akui bahwa tidak mudah untuk bisa benar-benar menjadi
seorang pengamat atas belief system dan proses pikiran kami. Kami
harus melepaskan keterikatan dan kemelekatan terhadap berbagai
informasi dan konsep yang telah kami terima selama ini, yang kami
yakini sebagai hal yang benar. Bill Gould, mentor kami selalu
berpesan, “You have to challenge everything, including your own
belief system or assumptions. That’s the key to quantum leap in
personal growth and consciousness expansion”.

Salah satu topik yang kita bahas dengan intens adalah mengapa
berpikir positif justru semakin memperburuk kinerja seseorang. Topik
ini menjadi materi yang menarik untuk didiskusikan karena kami
sendiri telah mengalami efek negatip dari “berpikir” positif.

Benar. Anda tidak salah baca. Kami mengalami efek negatip
dari “berpikir” positif. Namun tolong jangan protes dulu. Saya
menempatkan kata berpikir dalam tanda kutip. Apa maksudnya?

Sering kali kita merasa yakin, diyakinkan, atau asal percaya bahwa
kita harus berpikir positif. Menurut berbagai buku dan motivator atau
trainer berpikir positif baik bagi diri kita. Yang jarang diungkapkan
adalah bahwa berpikir positif itu harus benar-benar tulus dan
holistik.

Yang saya maksudkan dengan holistik adalah baik pikiran sadar maupun
bawah sadar keduanya saling setuju, sinkron, kongruen dalam berpikir
positif.

Ambil contoh orang yang menetapkan suatu target penjualan. Misalnya
target bulan ini adalah 50% lebih tinggi dari bulan sebelumnya.
Pikiran sadar kita “percaya”, lebih tepatnya dipaksa untuk percaya,
bahwa kita mampu mencapai target ini. Kita melakukan afirmasi setiap
hari, menempel kata-kata positif di berbagai tempat, dan melakukan
visualisasi. Apa yang terjadi?

Ternyata ada bagian dari diri kita yang menolak hal ini karena
kenaikan target dianggap terlalu tinggi sehingga dirasa tidak mungkin
bisa dicapai. Akibatnya kita tidak berhasil mencapai target ini.
Namun kita tetap “percaya” dan “positive thinking” bahwa kita dapat
mencapai apapun asal kita yakin. Bukankah ini yang diajarkan di
hampir semua buku positif dan berbagai seminar motivasi?

Lalu apa yang kita lakukan? Kata orang, “Kegagalan adalah sukses yang
tertunda”, “Tidak penting berapa kali kita jatuh yang penting adalah
kita bangkit setiap kali kita jatuh”, “Tidak ada namanya kegagalan,
yang ada adalah hasil yang tidak kita inginkan”, dan masih banyak
lagi kata-kata mutiara berkenaan dengan kegagalan. So….? Keep
trying….. pokoke maju tak gentar, pantang menyerah.

Setelah dua bulan, tiga bulan, empat bulan, dan kita masih belum
berhasil mencapai goal kita maka kita mulai merasa nggak enak. Tapi
kita tetap berusaha berpikir positif. Why? Karena memang begitulah
yang kita baca di buku-buku positif.

Lalu, mengapa “berpikir” positif justru akan sangat berbahaya bagi
diri kita? Pada kasus di atas, yang terjadi sebenarnya adalah kita,
secara tidak sadar, telah mengedukasi pikiran bawah sadar bahwa kita
sebenarnya memang tidak kompeten alias gagal. Lho, kok bisa begitu ?
Lha, buktinya kita sudah berkali-kali tidak berhasil mencapai target.
Pikiran sadar kita dapat kita paksa untuk berpikir positif. Namun
pikiran bawah sadar kita tidak bisa kita bohongi. Setiap kali kita
gagal mencapai goal maka pikiran bawah sadar diedukasi dengan suatu
pelajaran negatip, “Ternyata memang saya nggak bisa mencapai goal
ini”. Dengan mengalami kegagalan beruntun maka efek repetisi terjadi
(ingat prinsip pemrograman pikiran). Dan kita, secara bawah sadar,
semakin percaya bahwa kita memang tidak mampu.

Kalau anda tidak percaya apa yang saya jelaskan coba anda rasakan
perasaan anda saat saya berkata, “Set Goal”. Bagaimana perasaan anda
saat anda melakukan Goal Setting. Apakah yang muncul perasaan positif
atau negatip?

Dari pengalaman saya, kata “goal setting” ternyata mempunyai konotasi
negatip. Mengapa ? Karena kata ini mengingatkan kita akan kegagalan
kita. Banyak kawan saya yang secara jujur berkata, “Sekarang kalau
saya diminta set goal maka perasaan saya langsung menolak. Ada
perasaan nggak enak di hati saya. Nggak tahu kenapa bisa seperti
ini”.

Sebenarnya jawabannya sederhana. Goal karena terlalu sering tidak
berhasil dicapai akhirnya mempunyai konotasi negatip. Kita secara
bawah sadar menghubungkan/meng-anchor kata goal setting dengan
perasaan gagal. Jadi setiap kali kita mendengar kata “goal setting”
maka yang muncul adalah memori atau pengalaman kita saat gagal
(berkali-kali) dalam mencapai goal kita.

Jadi, semakin seseorang berusaha untuk positif maka semakin negatip
ia jadinya. Mengapa bisa begini? Karena memori manusia bersifat
holographic sehingga mempunyai kemampuan/sifat cross referenced.
Artinya, tidak ada memori yang berdiri sendiri. Semuanya saling
terkait. Saat kita berusaha positif maka pada saat yang sama pula
kita mengaktifkan memori negatip, di bawah sadar. Semakin kita
berusaha positif maka semakin kuat efek negatip. Hal ini jarang
disadari dan dimengerti orang.

Seorang kawan yang bergerak di bidang marketing, satu minggu setelah
menerapkan konsep keselarasan pikiran positif (sadar dan bawah sadar)
mampu meningkatkan penghasilan 3 (tiga) kali lipat dibandingkan
sebelumnya. Dan yang lebih hebat lagi ia tidak usah kerja keras untuk
mencapai hal ini. Kesannya adalah semua sudah ada yang mengatur.

Satu hal yang perlu anda ketahui yaitu kawan saya ini adalah orang
yang selalu berusaha berpikir positif, telah membaca sangat banyak
buku positif, menghadiri berbagai seminar di dalam negeri dan di luar
negeri. Ia malah telah bertemu dengan dua orang top. Seorang di
bidang motivasi dan seorang lagi adalah penulis buku keberhasilan
finansial yang sangat terkenal. Sudah tentu ia membayar sangat mahal
untuk bisa menghadiri seminar-seminar ini. Apalagi seminarnya
dilakukan di Singapore.

Namun apa yang terjadi? Semakin ia berusaha positif maka semakin
dalam ia terperosok ke dalam perangkap berpikir negatip. Kawan saya
ini protes keras saat pertama kali mendengar tentang “Bahaya Berpikir
Positif”. Baginya statement ini nggak masuk akal. Namun setelah
berdiskusi cukup panjang kawan saya akhirnya bisa memahami maksud
saya.

Lalu bagaimana cara berpikir positif yang benar-benar positif? Ya itu
tadi. Pikiran sadar dan bawah sadar harus selaras. Yang harus menjadi
landasan pijak adalah apa yang ada di pikiran bawah sadar. Jadi,
untuk benar-benar mampu berpikir positif yang positif maka pikiran
positif itu harus berawal di pikiran bawah sadar. Bila ini berhasil
kita lakukan maka efeknya akan sangat luar biasa. Kita akan dapat
dengan sangat mudah mencapai target yang kita inginkan.

Anda pasti bertanya, “Ok, kalau begitu bagaimana caranya?” Ada banyak
cara untuk bisa menyelaraskan pikiran sadar dan bawah sadar, untuk
bisa membuatnya kongruen. Kita bisa menggunakan NLP, Hypnotherapy
(ada sangat banyak teknik), SMC, Visualisasi, Mind Reprogramming
dengan bantuan guided imagery, menggunakan musik/audio dengan muatan
frekwensi khusus, atau teknik lainnya. Akan sangat panjang dan teknis
bila saya jelaskan dalam artikel ini.

Sumber: Bahaya “Berpikir” Positif oleh Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis best seller Born to be a Genius, Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success, Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan ?, dan Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication.

Arsip Milist ResonansiApril 30, 2006 6:34 am

Memang tidak gampang menjadi seorang guru, apalagi menjadi guru bagi
diri sendiri. Sampai saat ini, terutama di Indonesia, banyak orang
yang tidak menghargai pekerjaan seorang guru karena satu dan lain
hal, antara lain karena penghargaan finansial yang rendah. Sangat
disayangkan sekali karena sebenarnya pekerjaan seorang guru itu lebih
dari sekedar mulia.

Intinya, apa yang dikerjakan seorang guru sesungguhya adalah suatu
proses yang setiap orang pasti lakukan dan terapkan pula pada dirinya
sendiri. Proses yang baik akan menghasilkan output yang baik, proses
yang tidak baik akan menghasilkan output yang tidak baik pula.

Sebelum kita membahas apa yang dimaksud dengan “menjadi guru bagi
diri sendiri” dan “coach yourself,” mari kita telaah sebenarnya
profesi apa saja yang sebenarnya adalah metamorfosa dari profesi ini.
Mungkin Anda tidak menyadari bahwa Anda sendiri pun adalah
seorang “guru.” Bagaimana mungkin?

Seorang salesman pun sebenarnya adalah seorang guru, paling tidak
bagi customer dan diri sendiri serta fellow workers yang memerlukan
informasi produk darinya. Seorang eksekutif pun sebenarnya adalah
seorang guru. Dalam melakukan negosiasi dan presentasi, misalnya, ia
perlu dengan jelas, jujur dan gamblang menggambarkan keadaan yang
sebenarnya akan apa yang diajukan di muka umum.

Lantas, apa yang dimaksud dengan “coach yourself” dan “menjadi guru
bagi diri sendiri?” Pertama, seorang “coach” adalah seseorang yang
membantu memperjelas arah jalan dan bagaimana mencapai tujuan. Dengan
berbagai cara, strategi dan tip, seorang coach berusaha meningkatkan
awareness akan kesempatan-kesempatan yang ada untuk dicapai dalam
timeframe tertentu.

Lantas dengan menjadi coach bagi diri sendiri, ini adalah kesempatan
Anda untuk mencari jalan dengan meningkatkan awareness akan segala
kemungkinan, kesempatan dan strategi. Misalnya saja, seorang
mahasiswa yang baru lulus kuliah. Janganlah Anda “memakai kacamata
kuda” dengan tanpa kritisisme sama sekali. Seorang lulusan marketing,
misalnya, tidak perlu terpaku akan pekerjaan-pekerjaan marketing dan
sales saja, karena sebenarnya marketing adalah bidang yang luas.
Demikian luasnya sehingga sebenarnya anda sendiri pun adalah “barang
dagangan.”

Mengapa Anda tidak menciptakan suatu “image” alias “merek dagang”
mengenai diri Anda sendiri? Misalnya, si Susan adalah seorang fresh
graduate sarjana pemasaran dari suatu universitas swasta. Namun,
karena kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang ini, ia
hendak mencoba melakukan bisnis.

Bisnis apa? Pertama-tama, buatlah inventaris kelebihan diri sendiri
dan fokuskan hal ini supaya skills dan talenta di bidang ini
ditingkatkan semaksimal mungkin dengan berbagai cara. Lantas,
pengetahuan pemasarannya bisa digunakan untuk memperkenalkan produk
atau jasa yang sesuai dengan “image” alias “merek dagang” yang hendak
ditawarkan ke pasar.

Ingat untuk selalu tahu ke mana arah yang dituju.

Kedua “menjadi guru bagi diri sendiri.” Anda hendaknya mengenal
kekurangan diri sendiri dan memfokuskannya ke tujuan yang akan
dicapai. Bayangkan jika Anda adalah seorang guru, apa yang akan Anda
lakukan untuk membantu murid Anda (yang nota bene adalah diri Anda
sendiri) supaya tujuannya bisa dicapai dalam waktu yang telah
ditentukan?

Jelas, Anda perlu membuat lesson plan, sebagaimana seorang guru
mempersiapkan pelajaran-pelajaran bagi murid-muridnya. Lesson plan
itu sendiri terdiri dari obyektif yang diharapkan untuk dicapai
dalam “kelas” tersebut yang perlu diselesaikan dalam timeframe
tertentu. Selain itu, lesson plan juga terdiri dari beberapa poin
yang dikenal sebagai steps (langkah-langkah).

Contoh obyektif, misalnya, mencapai penghasilan 20 juta Rupiah dalam
satu bulan. Steps atau langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk
mencapai ini adalah dengan menjual produk dengan omzet satu juta
Rupiah per hari, yang berarti perlu menjual 100 ribu Rupiah per jam
(asumsi 10 jam kerja per hari). Bagaimana mencapai hasil ini? Anda
sendiri yang bisa menjawab, mungkin dengan berusaha meningkatkan daya
tarik produk dan jasa Anda, serta lain-lainnya.

Intinya, sebagai seorang coach dan guru bagi diri sendiri, Anda perlu
mengenal diri sendiri, segala kelebihan dan kekurangannya, lantas,
stick to the plan dengan menjalankan tahap demi tahap dalam hitungan
waktu yang bisa dikuantifikasikan. Run your life as a business.
Jalankan hidup Anda sebagai bisnis, Anda pasti berhasil.

Now, siapa bilang profesi seorang guru itu monoton dan tidak
menghasilkan? Anda sendiri pun adalah seorang guru bagi diri Anda
sendiri, jadi janganlah kita mengecilkan arti kata “seorang guru.”

Sumebr: Coach Yourself: Menjadi Guru Bagi Diri Sendiri oleh Jennie S.
Bev. Jennie S. Bev adalah edukator, penulis, konsultan dan penerbit
berbasis di San Francisco Bay Area. Ia telah menerbitkan lebih dari
40 buku dan 900 artikel di manca negara. Baca perjuangan hidup dan
prestasinya di JennieSBev.com.

-->